A Sharper Nine Inch Nails
Dengan semua perubahan dan kemajuan yang terjadi di dunia musik saat ini adalah suatu kewajiban seorang musisi/artis untuk mengambil langkah terbaik untuk karir mereka. Di tengah polemik dan menggunungnya keraguan akan masa depan major label, artis-artis terkenal macam Radiohead, Smashing Pumpkins dan Nine Inch Nails mulai mengambil kebijakan “taking matters into their own hands”.
Artis terakhir yang saya sebut mungkin bisa dibilang yang paling radikal. Secara publik telah mengecam eksistensi dan keserakahan major label lalu mengembargo semua fans untuk tidak lagi membeli album lama NIN. Karena menurutnya hak asasi-nya sebagai musisi telah diperkosa oleh label lama dia, Interscope.

Trent Reznor sang otak dibalik band Industrial ini memutuskan untuk keluar dari labelnya dan mengklaim kembali kontrol akan penjualan albumnya. Mulai dari rekaman, copyright, promosi, tur, dsb. akan ia pegang sendiri, begitu misinya. Beberapa album terakhir NIN (“Ghost I-IV”, “Year Zero”, “The Slip”) direkam dengan modal sendiri dan dirilis secara sensasional: gratis!. Album tersebut bisa diunduh secara cuma-cuma dari websitenya, yang ia minta hanya sedikit informasi tentang anda (baca: nama, email dan domisili). Formatnya digital pun tersedia di berbagai format audio dari yang paling kecil (MP3) hingga kualitas CD (FLAC). Sementara untuk format fisik ia menyediakan CD dalam beberapa packaging yang menarik (2 Disc, Deluxe Edition & Ultra Deluxe) dan Vinyl.
Segi promosi dan marketing pun tak kalah hebohnya. Secara kontroversial ia merilis semua file musik mentah dari semua lagu-lagu dari album “Year Zero” dan memperbolehkan semua fans untuk mengutak atik dan meremix-nya. Ini yang dinamakan menggunakan partisipasi fans secara cerdas. Hasil remixnya pun dibuat menjadi album dan sang fans mendapat ketenaran yang berbeda dibanding menjadi fans band lain. Win-win situation untuk semua.
Beberapa waktu yg lalu Trent meluncurkan ide terbarunya. Mengandalkan mailing list mereka yang mengunduh albumnya ia meminta partisipasi fans untuk mengisi sebuah angket tentang musik NIN. Mempelajari konsumer adalah sesuatu yang bahkan langka dilakukan major label. Mengetahui apa yang para fans mau akan sangat berguna untuk project Trent yang akan datang.

Memang apa yang dilakukan NIN sekilas tampak seperti sebuah aksi buta yang dilandaskan emosi seorang artis pada mesin korporasi macam major label. Namun kalau anda observasi sejenak, ada pelajaran cerdas yang bisa diambil dari Trent dan NIN. Hampir semua trik marketing musik di dunia digital ini dieksekusi dengan cerdasnya. Kalau anda pikir dengan membuat website, account di Myspace dan menjual lagu di iTunes adalah sebuah langkah karir yang sustainable maka anda salah. Dalam industri musik yang baru, adalah sang agregator yang meraup keuntungan besar. Sementara artis hanya mendapat sekian hingga nihil keuntungan.
Intinya adalah di “cutting out the middle man”. Trent berhasil melakukan itu dan meraup keuntungan bersih yang sudah sepantasnya ia dapatkan dari karyanya sebagai seorang musisi. Satu, copyright musik sudah seharusnya ada di tangan seorang artis. Tanpa artis tak ada bisnis. Kedua, sediakan musik anda dalam format yang berbeda-beda, dalam kasus NIN gratis untuk mereka pendengar casual, dan Deluxe bagi fans setia. Audiophile akan dipuaskan oleh format FLAC sedangkan para pendengar musik biasa cukup MP3. Variasi format dan packaging memberi pilihan yang memudahkan kategori penggemar anda. Sell music at any form imaginable.
Ketiga, pindahkan fokus kepada live show bukan penjualan album. Tanpa bantuan label, artis pun sudah bisa mengandalkan jutaan promotor di dunia untuk menggelar konser dan meraup lebih banyak keuntungan dibanding penjualan album di tengah jaman pembajakan seperti sekarang ini. Dan yang lebih hebatnya coba lihat kemegahan konser NIN di video bawah ini. Cukup hebat untuk band yang tidak disokong bantuan finansial dari perusahaan besar, hanya dari fans.
Tentunya hal yang dilakukan Trent ini hanya bisa dilakukan oleh artis yg sudah established. Grassroot marketing yang dilakukannya tak akan berjalan lancar kalau ia sendiri tak mempunyai kredibilitas musik dan jutaan fans sejati. Tapi hey, musik gratis adalah sebuah awal yang baik untuk meraih jutaan fans.
Paradigma yang mengandalkan Major Label sebagai manufacturer ketenaran dan kesuksesan semakin terkikis. Walaupun tidak di beberapa negara seperti Indonesia, tapi cepat atau lambat pemikiran yang ditelurkan NIN ini akan membawa dampaknya ke komunitas musik dunia. Indonesia memang tak pernah terkenal sebagai early adopter dalam hal bisnis di bidang musik, satu-satunya yang melaju dengan cepat adalah perkembangan telfon seluler.




