2 minutes and 51 Seconds of Forgetting All Your Worries

There’s traffic in the sky and it doesn’t seem to be getting much better
There’s kids playing games on the pavement
Drawing waves on the pavement
mm hm
Shadows of the planes on the pavement
mm hm
It’s enough to make me cry
But that don’t seem like it could make it feel better
Maybe it’s a dream and if I scream
it will burst at the seams and
this whole place will fall into pieces
and then they’d say…
Well how could we have known?
I’ll tell them it’s not so hard to tell
na na na
if you keep adding stones
soon the water will be lost in the well
mm hm

Puzzle pieces in the ground but no one ever seems to be digging
Instead they’re looking up towards the heavens with their eyes on the heavens
mm hm
the shadows on the way to the heavens
mm hm
It’s enough to make me cry
but that don’t seem like it would make it feel better

The answers could be found
we could learn from digging down
but no one ever seems to be digging
instead they’ll say…

Well how could we have known?
I’ll tell them it’s not so hard to tell
na na na
if you keep adding stones
soon the water will be lost in the well
mm hmmm

Words of wisdom all around
but no one ever seems to listen
They talk about their plans on the paper
Building up from the pavement
mm hm
there’re shadows from the scrapers on the pavement
mm hm

It’s enough to make me sigh
but that don’t seem like it would make it feel better
The words are all around
but the words are only sounds
and no one ever seems to listen
Instead they’ll say…
Well how could we have known?
I’ll tell them it’s really not so hard to tell
na na na
If you keep adding stones
soon the water will be lost in the well
lost in the well
mm mm mm

Jack Johnson – Traffic in the Sky

  • Share/Bookmark

Renovasi Day 1

Menjadi entreprenur sudah jadi impian semua orang tidak terkecuali saya, tapi menjadi restauranteur bisa dibilang impian sekelibat yang sering terlintas di pikiran saya dulu. Sebagai seseorang yang punya hobi memasak tentu saja mengelola restoran sendiri jadi salah satu mimpi saya. Beruntunglah karena momen yang dirasa tepat saya dan teman-teman menjajaki ide restoran ini dan setelah melalui beberapa kendala akhirnya tepat hari ini renovasi dimulai. Bentuknya masih acak-acakan sekarang, tapi konsep hampir sudah 100% dibukukan. Untuk sementara ini silahkan ikuti twitter kami untuk update terbaru.

Saya bukan idealis, tapi yang jelas saya penganut ideologi “bekerja atas dasar passsion”, walaupun sampai sekarang saya masih belum tahu passion saya apa. Tapi mungkin saja bisnis kuliner malah jadi passion yang saya cari-cari selama ini. Tidak ada juga yang tahu nasib manusia, yang jelas semakin saya berusaha mencari semakin dekat juga saya ke jawabannya. You can only find by passion by seeking it. If you don’t know it yet just be enthusiastic about what you do now. And thank god I’m really excited for this.

PS: mohon doanya :)

  • Share/Bookmark

The Man’s Guide to Love

The Man’s Guide to Love adalah sebuah situs yang berisikan kumpulan komentar-komentar singkat dari pria-pria random di jalanan tentang konsep mereka akan cinta. Kedengerannya sedikit cheesy memang. Tapi kalau dikemas dengan situs yang menarik konsep ini sebenarnya sangat noble dan hampir belum pernah kita lihat dimana-mana. Ternyata banyak sekali perbedaan konsep ‘cinta’ dari mereka yang baru berumur 20an sampai mereka yang sudah berumur kepala 8.

And if it works well for these folks, it might just work well for everyone.

The Man’s Guide To Love #54 from themansguidetolove on Vimeo.

“Stay in the course. It just gets better, and better, and better.”

  • Share/Bookmark

Blur – Fool’s Day

Setelah 7 tahun berpisah (dari formasi aslinya) akhirnya legenda british pop ini kembali ke tempat asalnya (baca: studio) dan merekam lagu baru mereka berjudul “Fool’s Day”. Lagu ini dilepas ke publik dalam rangka merayakan Record Store Day dan bisa di-download secara gratis di website mereka. Apakah ini pertanda Damon Albarn cs. akan kembali membuat album? saya sendiri ragu. Jujur saja saya banyak dikecewakan dengan band-band lama yang reuni dan bikin album lagi (Smashing Pumpkins, Stone Temple Pilots, dll). Jadi lebih baik pelan-pelan tapi pasti. One song at a time Damon!

  • Share/Bookmark

Your Job is Not Your Career

Buku self-help atau personal development ada ratusan jumlahnya diluar sana, belum lagi jika anda menghitung buku rilisan luar. Menemukan yang benar-benar bagus dan cocok menjadi perkerjaan yang sangat sulit kalau sudah begini. Beruntunglah saya beberapa minggu yang lalu, tanpa ada niat ataupun rekomendasi dari orang lain, menemukan buku career coaching berjudul “Your Job is Not Your Career” karya Rene Suhardono yang dipublikasikan oleh Literati Books. Dua buku yang dikemas jadi satu ini bisa jadi investasi termurah dan terbaik yang pernah saya beli.

Sebelum membaca buku ini saya sudah familiar dengan nama Rene Suhardono. Awalnya dari ketika saya bertemu dengan seorang headhunter bernama Pri Notowidigdo tahun 2009 kemarin. Bersama teman-teman saya kita berbincang panjang dengan Oom Pri, dan diujung pembicaraan ia merekomendasikan kami untuk bertemu koleganya bernama Rene. Walaupun rencana tersebut tak pernah direalisasikan nama Rene menempel terus di ingatan saya.

Setelah kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu saya kembali mendengar nama Rene. Rupanya dia juga seorang broadcaster di salah satu radio terkemuka. Tapi bukan sembarang broadcaster, dia menjadi host acara career coaching. Hampir di tiap kesempatan saya selalu berusaha mengikuti coaching session dari Rene. Banyak sekali wisdom yang dibaginya di acara itu, pikir saya. Hingga akhirnya saya mampir ke Gramedia menemani pacar saya mencari buku dan menemukan buku bersampul putih dengan design minimalis dan kata-kata yang lugas “Your Job is Not Your Career”.

Seperti yang saya bilang diatas, karya Rene ini 2 in 1. Ada 2 buku dalam 1 paket. Yang pertama mengutarakan perbedaan konsep antara ‘job’ dan ‘career’. Dimana job sebenarnya adalah sebuah sarana pengembangan diri dan juga mencari nafkah dalam perjalanan professional kita sebagai manusia. Perjalanan tersebut adalah karir. Di dalam karir ini kembali Rene meneriakkan kredo-kredo yang sering saya dengar: bentuklah karir dari passionmu! bukan atribut, uang, benefit atau apa lah, tapi passion!

Sementara buku keduanya berisikan career snippets, atau hal-hal practical yang bisa kita lakukan di dalam pembentukan karir kita dan bagaimana kita berurusan dengan lingkungan kerja. Jadi ada 2 segi dari buku ini, bukan hanya menawarkan petuah-petuah tapi juga bagaimana cara mempraktikannya dalam kehidupan nyata. Selain isinya yang bagus saya yakin anda juga akan menyukai ilustrasi dan layout yang enak dibaca. Empat jempol untuk designer buku ini.

Saya sendiri merasa seperti di-charge ulang setelah membaca buku ini. Di umur-umur seperti sekarang ini hampir semua orang yang saya kenal berada di persimpangan dan atas dasar perintah orang tua serta tekanan lingkungan (baca:gengsi) kebanyakan memilih jalur karir yang terpusat pada uang atau jabatan. Ada baiknya sebelum membuat keputusan-keputusan yang nanti disesalkan 20 tahun ke depan lebih baik mengejar sesuatu yang kita cintai. Memang sulit menemukan apa itu ‘passion’ tapi paling tidak dengan membaca buku ini kita bisa semakin tahu bagaimana cara menemukan si holy grail bernama ‘passion’ itu.

Embrace your passion. Live a life of action. Build our nation.

  • Share/Bookmark

Sempurna vs Landslide

Saya ingat sekali pertama kali saya mendengar lagu ‘Sempurna’ dari Andra & The Backbone di radio, “Wuih tumben-tumbenan lagu ini ada di radio” begitu pikir saya. Tapi alangkah kagetnya saya dibuat ketika suara vokalnya masuk, kok lagu Indonesia ya?. Ternyata eh ternyata…lagu yang saya maksud berbeda dengan lagu yang ada di radio. Ironisnya lagi karena lagu ‘Sempurna’ ini jadi hits sementara tak satupun orang mengenal lagu ‘Landslide’ dari Smashing Pumpkins. Well, to be exact lagunya sendiri memang bukan lagu SP melainkan lagu Fleetwood Mac yang dibawakan ulang. Tapi sampai detik ini saya masih tidak percaya kenapa part gitarnya bisa sama persis.

Karena kita harus menjunjung tinggi praduga tak bersalah jadi saya tak mau langsung menuduh bahwa Andra dan ‘tulang belakang’-nya memplagiat begitu saja. Anggap saja ini kebetulan. Tapi paling tidak anda bisa tahu bahwa ada lagu dengan part gitar sama yg juga tak kalah bagusnya berjudul ‘Landslide’. Coba anda nilai sendiri:

Can’t really embed Andra’s clip so you can watch it here: Andra & The Backbone – Sempurna

  • Share/Bookmark

Favourite Movie Characters (Part 1)

Setiap film yang bagus tidak hanya memiliki cerita yang menarik dan unik tapi juga mempunyai karakter yang memorable. Baik itu peran utama maupun figuran setiap aktor/aktris dalam sebuah film ibarat pilar yang membuat film itu sendiri berdiri kokoh. Semakin bagus aktingnya semakin kuat juga cerita film tersebut. Malah di beberapa kasus ada karakter yang lebih menonjol ketimbang filmnya. Itu dia kenapa dalam Academy Award atau Oscar terkadang yang menyabet piala Best Performance-nya belum tentu pemeran utama dari Best Picture-nya. Berikut ini adalah karakter-karakter film yang menurut saya saking memorable-nya saya tak segan-segan menonton film mereka berkali-kali.

Daniel Day Lewis – Bill ‘The Butcher’ Cutting (Gangs of New York)

Akting Daniel sebagai karakter antagonis di film ini benar-benar luar biasa. Kalau saya boleh sok tahu malah menurut saya mengalahkan Leonardo DiCaprio yang sebenarnya pemeran utama. Walaupun ia cuma dapat nominasi Oscar di film ini tapi perannya sebagai pemimpin bermata satu dari geng American Natives yang bengis dan tak kenal ampun ini benar-benar menghidupkan film Gangs of New York. Day-Lewis memang terkenal sebagai ‘method actor’ dalam pengertian ia akan berusaha melakukan apa saja untuk masuk kedalam karakter yang diperaninya. Bahkan selama proses syuting  ia tidak pernah keluar dari karakter tersebut agar penjiwaannya tidak pernah lepas. Edan!

Javier Bardem – Anton Chigurh (No Country For Old Men)


Jarang sekali ada karakter penjahat yang mampu membuat saya tegang tidak karuan. Hannibal Lecter mungkin salah satunya. Tidak bisa dipungkiri kalau Anton Chigurh adalah karakter yang membuat film ini mampu menjaga ritme suspense-nya. Semakin sedikit kata-kata yang keluar dari mulutnya dan semakin tenang pembawaannya maka semakin bergidik pula penontonnya. Anda dibuat gemas karena tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Apakah ia akan diam saja atau membunuh korbannya lagi?. Kalau anda tidak percaya dengan saya percaya saja ke piala Oscar untuk “Best Performance by an Actor in a Supporting Role” yang Javier raih karena perannya sebagai pembunuh bayaran ini.

Christopher Waltz – Col. Hans Landa (Inglourious Basterds)

Cukup menyaksikan scene pertama film arahan Quentin ini saja sudah cukup rasanya untuk memberikan piala Oscar kepada Christopher Waltz. Tidak mengherankan kalau QT bilang karakter Hans Landa ini adalah karakter tersulit yang pernah ia buat. Saking sulitnya ia bilang lebih baik tidak dibuat filmnya kalau belum ketemu aktor yang cocok untuk memerankannya. Beruntung lah ia karena bisa menemukan Christopher Waltz yang tadinya cuma aktor biasa saja (baca: bukan dari kalangan Hollywood). That was….Bingo! Membicarakan Hans Landa saja membuat saya ingin menyaksikan film ini lagi, padahal saya sudah 2 kali menontonnnya. It’s that good!

Samuel L. Jackson – Jules Winnfield (Pulp Fiction)

QT memang tahu cara mencari cast yang cocok untuk peran yang ia buat, jadi tak heran kalau ia sendiri mengaku disaat ia menulis ceritanya ia punya bayangan Jules Winnfield akan diperankan oleh Samuel L. Jackson. Walaupun semua karakter di film ini sangat kuat di koridornya masing-masing tapi Jules Winnfield lah yang paling berkesan buat saya. Seorang pembunuh bayaran yang tenang, humoris dan tahu cara mengatasi situasi sulit. Hampir semua kata-kata yang keluar dari mulutnya layak dijadikan quote dari film ini. That’s what I called good scripting. Siapa yang tidak ingat dengan quote “And I will strike down upon thee with great vengeance and furious anger…”?

Denzel Washington – John Quincy Archibald (John Q)


Tidak ada aktor yang mampu membuat karakter John Q hidup seperti Denzel. Seorang ayah yang desperate karena diperlakukan tidak adil oleh healthy system negara Amerika. Kalau sudah terpojok seorang ayah pun mau melakukan apa saja untuk anaknya. Kalau anda tidak dibuat berkaca-kaca dengan akting Denzel di film ini maka anda tidak punya hati.

Sean Penn – Harvey Milk (Milk)


Saking meyakinkan aktingnya sebagai seorang aktivis gay rights selagi menonton film ini saya terus berpikir “how’s it possible that Sean Penn’s not gay?!”. Setiap raut muka yang ditampilkan Sean Penn meyakinkan penonton kalau ia berhasil mendapatkan esensi dari karakter Harvey Milk sendiri. Memenangkan Oscar? sudah pasti.

Liam Neeson – Bryan Mills (Taken)


Move over James Bond and Jason Bourne, Bryan Mills is here. Selama kurang lebih 90 menit anda akan dibuat terpukau dengan ‘kegagahan’ Neeson sebagai ex-spy yang mencoba merebut kembali putrinya yang diculik. Film-film spy selalu punya karakter utama yang dipenuhi konflik, berbeda dengan Mills yang hidup dengan tenang dan tak terlihat sedikit pun seperti seorang spy. Ia tidak memiliki banyak gadget seperti Bond atau banyak skill seperti Bourne, tapi ia terlihat tahu apa yang ia harus lakukan di tiap situasi.

Heath Ledger – The Joker (The Dark Knight)


Rasanya tidak perlu saya jelaskan kenapa Heath Ledger masuk di list ini. Ia membawa karakter Joker yang lucu, humoris dan serakah menjadi bengis, psycho dan tidak punya orientasi apapun selain chaos. The Joker yang ia bawa adalah seorang anarkis. Tidak seperti Jack Nicholson yang punya pistol berlaras super panjang dan mencoba merampok semua bank, Joker disini membakar uang demi menciptakan dunia tanpa aturan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana proses casting Heath untuk karakter ini. There will never be a better comic villain than this one. Period.

  • Share/Bookmark

Pentingkah Punya iPad?

Pertama kali melihat gadget terbaru keluaran Apple ini saya cuma bisa berpikir “Buat apa sih punya beginian?”. Apalagi saya sendiri sudah jadi proud and satisfied owner dari sebuah iPhone 3G. Tapi mungkin karena effort marketing iPad yang efektif, saya makin lama makin melihat adanya lunjakan kenaikan ketertarikan saya akan gadget yang hari ini dijual untuk umum. Belum lagi ditambah review dari Techcrunch yang berani bilang kalau user experience di iPad ‘nearly flawless‘.

Fair-fair saja kalau orang bilang iPad ini cuma versi lebih besar dari iPod Touch, karena memang kenyataannya begitu. Tapi bukan itu intinya. Pertannyaan yang harusnya kita ajukan adalah “Apakah iPad akan membuat saya semakin produktif dan hidup saya semakin mudah?”. Itulah pertanyaan yang menurut saya tidak dijawab banyak orang Indonesia, khususnya mereka yang beli Blackberry. Bukannya saya anti-BB tapi come on admit it you guys are only buying it for chatting :p. Bahkan salah satu teman saya yang punya BB saja masih saja mencatat hal-hal tertentu di kertas. Then what’s the point of having a smartphone? but that’s another discussion by itself. We’re here to talk about iPad.


Menurut saya iPad akan menggantikan penggunaan laptop secara signifikan, khususnya untuk mereka yang cuma menggunakan laptop untuk browsing, cek email, cek Facebook, buka Twitter dan mendengarkan lagu (which most of us are). Atau dengan kata lain orang-orang seperti orang tua saya misalnya. Daripada susah-susah beli laptop yang jelas-jelas tidak akan digunakan secara optimal alangkah efisiennya kalau mereka mempunyai iPad. Semua hal yang mereka lakukan di laptop ada dalam satu sentuhan jari.

Siapa yang tidak tergoda dengan iBooks? ya saya tahu sudah ada Kindle. Tapi Kindle tidak lebih dari sebuah one-purpose device. Buat apa bayar jutaan rupiah cuma untuk membaca ebook? apakah tidak lebih baik menghabiskan uang tersebut untuk gadget yang bisa lebih banyak? Belum lagi ditambah adanya iWork, BBC News, Tweetdeck dan puluhan ribu iPad apps lain yang akan membanjiri iTunes Store dalam beberapa bulan ke depan. Bayangkan nikmatnya membaca sebuah ebook tanpa harus kuatir paha kita terbakar panasnya mesin laptop atau nonton film sambil tidur-tiduran atau mencari resep makanan tanpa harus membawa laptop diatas counter dapur yang rawan bahaya.

Bahkan Gmail pun sekarang mengeluarkan versi optimized for iPad! kalau sudah begini jadi makin jarang saja membuka laptop. Kemungkinan besar laptop/komputer cuma akan digunakan untuk mengoperasikan software-software berat seperti Adobe Creative Suite, atau program lain yang membutuhkan banyak storage space.

Jadi pentingkah punya sebuah iPad? menurut saya tergantung aktivitas anda. Kalau anda seperti saya yang menggantungkan hidup di software seperti Photoshop, inDesign dan Coda mungkin iPad cocok sebagai alternatif di rumah atau di kafe, gunakan laptop untuk bekerja lalu matikan dan pindah ke sofa sambil cek Facebook atau Twitter sambil online di Meebo. Itupun kalau anda punya uang lebih. Kalau anda tipe orang yang hanya menggunakan laptop atau komputer untuk kegiatan plesir, lebih baik jual barang elektronik tersebut dan pindah ke iPad. Saya jamin anda akan lupa rasanya mempunyai komputer.

  • Share/Bookmark

Bloodbuzz Ohio

Tidak banyak grup musik jaman sekarang yang mampu memiliki konsistensi seperti The National. Single terbaru band asal Amerika ini berjudul”Bloodbuzz Ohio” yang diambil dari album ke-3 mereka High Violet (keluar 11 Mei). Lagu ini seharusnya jadi bukti nyata kalau mereka bukan grup musik sembarangan. Dimulai dengan dentuman-dentuman drum yang khas sekali didengar di album mereka Boxer, lalu dibuai dengan vokal baritone yang jadi trademark band ini. Lagu ini bisa didownload dengan gratis disini. Bagi anda yang belum pernah mendengar nama band ini, mungkin ada baiknya dimulai dari lagu favorit saya yang satu ini:

  • Share/Bookmark

Surfer Blood

Surfer Blood membuat saya benar-benar excited. Sebagai fans musik alternative era 90-an tidak ada yang lebih memuaskan daripada mendengar hook gitar di intro lagu “Floating Vibes”. Rasanya seperti bertemu teman lama. Sudah lama sekali saya tidak mendengar sound alternative 90an seperti ini. Kalau anda penggemar Sebadoh, Dinosaur jr atau Pavement maka album ‘Astro Coast’ ini haram hukumnya untuk dilewatkan. Anda tidak akan kecewa dengan lagu-lagu seperti Swim dan Neighbour Riffs.

  • Share/Bookmark